Sudut Romantis Susah Lupanya, Pundong Bantul

Sabtu, Januari 23, 2016

Menceritakan tentang tanah kelahiran, seperti menekan tombol previous track.
Memutar kembali rekaman jejak-jejak cerita di masa kanak-kanak ketika memperebutkan dan berbagi kebahagiaan bisa diciptakan dari sebutir permen yang dipecah kecil-kecil pakai batu.
Setelah itu saling berebut atau bisa juga secara suka rela membagi melalui telapak tangan kecil yang saling terbuka. Memasukkan serpihan permen yang hampir remuk menyerupai pasir itu ke dalam mulut masing-masing, kemudian akan ditutup dengan acara menyaksikan senyuman massal sambil saling memamerkan gigi-gigi gigis itu.

Ah,
Dilahirkan di tempat yang begitu syahdu, jauh dari hiruk-pikuk kaum hedonis, di pinggiran kali opak, dikepung sawah-sawah nan hijau. Hanya lalu-lalangnya kesibukan orang-orang membawa dagangan ke pasar tradisonal, anak-anak yang bersepeda menuju sekolah, atau beberapa yang berangkat terlalu pagi ke sawah.
Senyuman, badan yang dibungkukkan sesaat ketika lewat, dan sapaan ramah mereka meskipun terkadang basa-basi tetap menjadi jiwa yang susah disamarkan.

Sampai detik ini, ketika aku sudah meninggalkan dimensi waktu yang jauhh dari ukuran-ukuran kebahagiaan semasa kecilku, aku tetap mencintainya.
Mencintai setiap sudut tempat ini…
Karena pada kenyataannya, ketika teman-sahabat pada merantau ke sana-kesanaa aku masih di sini. Menyaksikan orang datang - pergi, pergi dan sebagian kembali lagi. Sebagian mereka tetap merindukan segala isi suasana desa ini.

Harmoni, ikatan yang berlapis menguat tanpa kusadari membuatku merasa dibuat nyaman oleh dinding tebal yang menahanku untuk selalu tinggal.

Pundong…
Di kecamatan kecil ini, yang dulu suka dikatain teman:

“wii kalau mau ke rumahmu? Behhhhh kaya harus melewati hutan belantara, menyebrangi sungai, lembah, bukit, baru deh sampai rumahmu”


Kayanya temenku lagi *macak ninja hatori*.
Serasa hidup di pedalaman hutan hujan tropis yang sinar matahari mau mengakses masuk pun susah. Haha. Apasihh? Tapi kan di sini aku ga pernah kesusahan mengakses apapun
Sinyal? Puskesmas? Warung? Angkringan? Adaa semua…
Susahnya hanya jika mau mengakses hatimu yang tingginya 5000dpal. Iya hati kamu. *jegleg*

Meskipun teman-teman banyak yang bilang seperti terlalu hiperbolis pelosoknyaa tempatku ini, tetapi apakah mereka kapok main ke sini? Emmm kalau kataku sih no.
Ga pernah sekalipun secara tersirat atau bahkan secara terang-terangan mendengar pernyataan mereka kapok main ke sini. Kataku, setiap tempat di sini punya romantic magic yang susah dilupainnya.

Tulisan ini bukan bermaksud untuk mengeshare, kemudian berharap didatangi anak hitz jaman sekarang yang kebanyakan membuyarkan tenangnya pandangan mata,
Aku hanya ingin bercerita tentang rumah, payung, atap, dan tanah pijakan dari semasa kecil sampai saat ini. Tempat yang selalu teduh disempurnakan peluk hangat keluarga.

Berikut ini sudut-sudut romantic Pundong versi aku yang sengaja kuabadikan melalui beberapa kotak frame foto yang kadang jauhhh dari indah aslinya J :

1. Jembatan Gantung Pundong

Sebelum dibangun jembatan beton di sebelah baratnya, jembatan ini pernah menjadi akses penting masyarakat yang berada di sebelah selatan sungai untuk beraktifitas yang mengharuskannya menyebrangi sungai opak.
Tetapi saat ini jembatan ini sudah tidak terlalu difungsikan sebagaimana dulu, meskipun sesekali tetap dibuat lewat warga. Ketika minggu sore jembatan ini kini lebih ramai dipenuhi sesak dengan anak-anak hits, anak-anak muda yang sedang janjian, atau pun juga ramai dipake prewed dengan gaun mengibar terhempas angin sungai.

Oiya, ketika kalian mengetik #pundong (hastag pundong) di instagram, top recent, top post kamu pastii akan melihat deretan poto jembatan ini yang begitu banyak dipost orang-orang. Aku juga sering pake hastag pundong sih biar pundong kemana-mana haha.
Memang saat ini, jembatan ini menjadi icon di Pundong paling hits menduduki peringkat 1 versi on the spot. Haha.

Tapi versi aku, kenapa tempat ini termasuk sudut romantis?
Karena ini,

Senja di kelokan kali opak
Iya, aku bisa menikmati senja di atas bukit kemudian menyaksikan jembatan itu menyambungkan kembali Pundong yang terpisah di sisi utara dan selatan.
Apapun waktunya untuk menikmati view jembatan itu, tetap romantic

Ketika siang hari

Kelokan kali opak dan Jembatan Gantungnya di siang hari
Ketika sunrise (Pagi)
 
Sunrise di Jembatan Gantung Pundong


2.  Curug Pucung dan Grojogan Sentong

Nah kedua tempat ini berada di sebelah selatan kali opak, searah sama jembatan gantung tadi.
Curug Pucung karakteristiknya jauh kalau sama grojogan sentong, soalnya curug ini bentuk dan luasnya lebih sempit.



Meskipun begitu, curug ini cukup bisa lah kalau cuma mau dibuat renang-renangan dengan air mengalir. Tepat di bawah curug, ada seperti cekungan (kubangan) penampung air yang bisa digunakan untuk releksasi.
Pernah iseng naik di atas curug, ada kaya gini:

Genangan bersama grojogan kecil di atas, foto dari: Wihikan Wijna

Grojogan Pucung tingkat paling atas, foto dari: foto dari: Wihikan Wijna

Nah sekarang, bisa dibedakan dengan grojogan sentong:
 
pencahayaan tidak maksimal, gelapp

Kalau sentong, bentuknya lebih lebar dan tentunya lebih tinggi. Jika kamu kuat naik meniti batu padas dinding grojogan, kamu bisa melihat pemandangan Pundong dari atas lho.


Tapi tetap hati-hati yaaa….
Tentang grojokan sentong juga pernah aku posting sebelumnya di: Air Terjun Sentong, Pundong Punya
Grojogan Sentong dan Curug Pucung, punya kesamaan yaitu sama-sama grojogan musiman. Artinya: jika musim hujan datang, airnya melimpah tetapi jika musim kemarau tiba, airnya akan habis. 
Pinter-pinter atur waktu buat ke sini biar dapat momen yang menyenangkan buat basah-basahan.

3.       Jembatan Nangsri

Jembatan ini juga menghubungkan bagian dari pundong yang terbelah oleh sungai opak. Jembatan sempit yang lebarnya beberapa meter yang hanya muat dilewati oleh satu kendaraan saja.
Apakah yang membuat ini istimewa menurutku?
Bukan view jembatannya yang bagus, tetapi bagaimana potret kehidupan social masyarakat ketika kamu menyaksikan aktivitas masyarakat melewati jembatan ini.

Mereka yang sedang pulang dari sawah bersepeda membawa jerami padi kering, anak-anak yang bersepeda berangkat sekolah, pedagang yang membawa dagangannya ke pasar pagi-pagi buta, atau simbah-simbah yang sedang berjalan membawa gendongan di punggungnya.

Ketika pagi, suasana itu akan dilengkapi dengan cahaya matahari dari timur:

pas masih sepi
Nah mereka sedang menggunakan jembatan ini untuk memulai aktifitas pagi
Jembatan Nangsri ke barat, atau jalan menujunya ketika hari masih pagi, kamu akan melewati jalan ini:
 
suasana khas perdesaan

Pagi memang waktu yang tepat untuk memulai senyuman syukur dan menghirup nafas sebanyak-banyaknya untuk stock oksigen seharian J

4.       Pojok Kuliner

Ada beberapa macam kuliner di Pundong yang sangat jarang ditemukan di tempat lain. Mungkin
ada, tapi sangat susah ditemukan. Ini semacam trademark nya Pundong. Semacam belum sahhh
kalau belum mencicipi beberapa kuliner ini.
Sebagian besar olahan berasal dari tepung pati atau bahasa lainnya tepung tapioca yang asalnya dari
singkong.
Di sepanjang jalan pasar pundong ke timur, kamu akan menemukan beberapa jemuran (pati) di
sepanjang jalan yang baunya sangat khas. Selanjutnya bahan tersebut akan diolah menjadi beberapa
jenis pangan seperti: bakmi (mie), kerupuk, juga untuk bahan makan ternak (ampas ketela).
Ini beberapa jenis kuliner yang hanya bisa ditemukan di sini:

Bakmi Pentil
Baca: pentil huruf e seperti membaca m-e-r-a-h. rasa bakminya tawar tetapi teksturnya halus. Bakmi jenis ini berasal dari olahan tepung pati atau tepung tapioca yang digiling.
Pedagang bakmi pentil dari pundong bisa ditemukan di beberapa pasar tradisional lintas kecamatan.

Bakmi pentil dari olahan tepung ketela


Abangan
Jenis kuliner ini hanya bisa ditemukan di Pundong daerah tertentu. Maksudnya tidak bisa ditemukan di seluruh Pundong secara merata.
Rasanya yang kecut, baunya kecing, tidak banyak lidah yang bisa menerima. Biasanya hanya penduduk asli saja yang menggemarinya.

bisa diolah dalam bentuk diiris kotak-kotak
atau dimasak tipis-tipis


Jika ada penduduk asli yang merantau jauhh, jangan salah jika mereka lebih merindukan abangan daripada pacarnya sendiri. Haaa.

Miedes
Miedes atau mie pedes lebih banyak dikenal kalangan pecinta kuliner daripada kuliner yang aku sebutkan sebelumnya di atas.
Mie ini juga masih terbuat dari tepung singkong yang diolah terus diiris-iris panjang berwarna kuning. Jika sudah dimasak dan dibumbu pedes, rasanya cukup membuat ketagihan. Ada dua alternatif cara memasak: mie goreng atau dimasak menggunakan kuah.
Jika kamu ke Pundong, tidak sulit untuk menemukan beberapa warung yang menjajakan miedes. Harganya relatif murah, sekitar Rp.7.000,- per porsi. Ayok kesini dicobain.

ini miedes kuah yang goreng belum ada potonya :p
Kuliner yang aku sebutkan di atas, hanya untuk jenis yang khas atau susah ditemukan di tempat lain. Kalau untuk pecel lele, lotek, nasi goreng, ayam goreng, bakso, mie ayam, itu masih bisa juga ditemukan di sini :)

5.       Sawah

Bukan tentang siklus hijaunya, padi yang menguning, atau ketika padi dibabat habis, tetapi ini tentang tanah yang masih terselamatkan dari batang-batang beton.
Tentang burung-burung bangau putih yang masih bebas mengudara kemudian mencarikan sesuap makan buat keluarganya.
Tentang aktivitas interaksi berbagi para petani, bahu-membahu membantu dan berbagi informasi demi keberhasilan panen mereka.
Sebelum hijaunya berganti beton, aku pernah begitu menikmatinya via pagi, siang, ataupun senja.

Ketika senja; 



 Ketika pagi:


 Sawah di sekitaran Pundong juga ada jalan corblognya gini, jadi bisa buat sepedaan:




6.       Goa Jepang

Batas selatan menuju pantai;

Penampakan goa jepang
Dapat melihat pantai selatan dari ketinggian

Bukan melulu mengenai bangunan peninggalan Jepang, tapi ini tentang sudut tersembunyinya yang tak banyak diketahui oleh siapa-siapa.
Pernah posting ketika piknik asyik di sini: Piknik berselimut Kabut di Goa Jepang Pundong
Ini versi senja dan sunset:





Bagaimana kamu bisa melihat batas langit dan laut, bagaimana kamu bisa melihat kelokan sungai yang bermuara di samudra.

7.       Pasar Pundong

Mengapa tempat ini romantis?
Karena tempat ini dipenuhi dengan orang-orang yang mau ketemuan. Ketemuan sama penjual, ya ketemuan sama pembeli juga :p intinya mereka saling ketemuan.
Bagaimana jika seseorang ingin sesuatu dan pulang mendapatkannya? Itulah wajah dan ekspresi mereka ketika menginjakkan kaki keluar dari gerbang pasar. Mendapatkan sesuatu yang lagi dicari-cari.

Gerbang masuk Pasar Pundong


Di pasar pundong, seperti pasar-pasar tradisional lainnya kamu bisa mencari segala macam kebutuhan sehari-hari. Mulai dari sayur, beras, pakaian, dawet, berbagai jenis jajanan tradisional, dan masih banyak lagi.
Jika sudah berkeliling-keliling pasar, kemudian tiba-tiba perut terasa lapar, jangan khawatir karena di sini bisa ditemukan warung soto yang enakkkk banget. Cobain kalau ga percaya.
Letaknya ada di parkiran sebelah tengah lurus 10 meteran ke utara.
Ehemm… menunya adalah: soto ayam, ada bakwan, dan telur puyuh. Tidak usah ditanya tentang harga, karena ini cukup terjangkau meskipun sedang berada di tanggal tua.

Sotonya Ibukku :)
Berikut tak kasih price list nya per januari 2016:

Harga Rp.5000,- (seporsi soto+nasi),
Bakwan Rp.500,- per buah,
Es Rp.2.000,- per gelas,
Kerupuk: Rp.500,-
Telur puyuh satu tusuk isi empat Rp.2.000,-

Bagaimana? mau nyobain? oiya karena kamu adalah pembaca blog ini, kamu termasuk orang yang beruntung. Kenapa bisa begitu? karena bisa jadi kamu dapet voucher diskon makan di warung soto ini.
Caranya: bilang aja temennya Dwi. Jangan bilang mantannya yaa?
Nanti dapet diskon tambahan daging ayam sesuwir atau tambahan kuah soto segayung. Haaaa
terang saja karena yang jualan ibukku sendiri :p . ahahaha gapapa dong sekali-kali promosi, ini bentuk bakti anak kepada orangtuanya :D
Eh iya, warung sotonya saking banyak peminatnya terkadang jam 11 siang aja udah habis lho. Jadi buruan mruput yaa kalau mau nyobain?

8.       Tempuran Kali Opak dan Kali Oyo

Kali opak adalah tempat yang sangat tidak asing bagi mataku, kakiku, dan tanganku. Di tempat ini, aku sering menghabiskan waktu bermainku sewaktu kecil.
Mencari keong-keong, batu-batu putih menyerupai batu akik, mencari lumut, atau bunga enceng gondok buat main pasar-pasaran.
Bukan hanya itu, terkadang aku juga sering mencari ikan dan udang kecil, mencuci tikar, atau basah-basahan mainan gedebog pisang yang terapung-apung sepanjang sungai.


Dulu, di sepanjang kali kamu bisa menemukan pohon duwet, pohon jambu biji, pohon asem, atau pohon mangga yang jika buahnya jatuh bisa dibuat bekal ketika merasa kelaparan.

Aktifitas penambang pasir sungai opak
Baru segede ini, aku menginjakkan kaki di tempuran kali opak dan kali oyo.
Ternyata kali opak yang mengalir di sebelah selatan desaku ini bukanlah murni ni kali opak, karena kali ini ternyata sudah bercampur dan menyatu dengan aliran kali oyo.

Tampungan kali opak sebelum bertemu dengan kali oyo

Dulunya hanya mendengar saja, tetapi kali ini benar-benar menyaksikan.
Kata orang-orang, daerah ini sedikit angker. Ah apa iya? Ini karena ada beberapa anak yang main dan tenggelam di sini. Ya namanya sungai, kalau menurutku lebih angker an melihat kamu sama yang lain.

Ini setelah kalinya pada ketemuan: 


Tempuran kali opak menjadi surganya para pemancing
 Aliran sungai yang berwarna cokelat: itu kali oyo, sedangkan yang berwarna hijau itu kali opak.

Foto dari atas
Nah ini lho mblo kali aja ketemuan, terus menyatu jadi satu gitu. Masa kamu enggak? cuma mengagumi dalam diam, mengagumi dari jauh, iya gitu aja terus sampai lebaran singa J

  ***

Begitu sudut-sudut indah a.k.a Romantis menurutku. Tentu yang ku tulis hanya secuil kecil dari indah yang sebenarnya. 
Selamat menikmati dan menjaga setiap sudut itu seperti kamu menjaga hatimu...

Terima Kasih Sudah Berkunjung

34 comments

  1. Ah, Pundong. Ngerti Pundong malah dari Pakdheku di masa2 terakhir mau lulus kuliah. Pakdheku yang hobi motret ngajak nyari sesek Pundong yang katanya eksotis. Eh, sudah berubah jadi jembatan gantung. Eh, malah sekarang di dekat jembatan gantung sudah ada jembatan besar dan lebar. Pesat sekali lah perkembangan Pundong.

    Buatku klo membayangkan Pundong bukan melewati gunung, menuruni lembah. Tapi di Jl. Parangtritis km 16 sehabis rumah sakit belok kiri. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaa mas mawi makasih first komennya :)
      Ini cerita tentang rumah sendiri mas jadi agak baper banget :`) lha mas mawi malah udah tau tempuran... padahal rumahnya jauh lha aku belum lama ini lagi tau haha isin aku

      Hapus
  2. Jadi kapan kami diajak ke tempat-tempat itu? :-D

    BalasHapus
  3. Kerennn ,,pundong luar biasa,,,jadi kangen abangan,mie dess,asek besok mampir pasar dpt gratisan soto swiran daging ayam semangkok +kuah segayungg kikikiki

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahaha kamu kalau pulang paling mung ameh nikah :p yaaaa mampir aja buat kamuharga soto 3x lipat

      Hapus
  4. Pundong, 3 tahun pernah belajar disana

    BalasHapus
  5. Air terjun pucungnya bagus mba' cek ya :) http://sobondeso.blogspot.co.id/2016/02/blusukan-ke-air-terjun-pucung-pundong.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ok mas :)
      Sekarang papan petunjuknya kynya sudah dicopot

      Hapus
  6. Aku bingung sendiri kalo mo bilang sudut romantis. Lha habis tinggal ku pindah pindah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sudut romantismu ya di hatinya mbak aqied
      ..ga pindah pindah wkwk

      Hapus
  7. Jadi ingin pulang :) nice story with nice pic... aku tahu semua tempat-tempat itu hehe...abangan? the best.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo mas pulang.... haha abangan, miedes,mantan, ngawe awe lohh :D

      Hapus
  8. Tahun lalu aku ke Pundong. Ke rumah salah satu teman sma ku. Malam itu aku ditraktir Mie Des di dekat rumahnya. Dan karena ngobrol terlalu malam aku kemudian menginap di rumah Junaedi.

    Baru pulang ke Gunungkidul pagi harinya melewati jembatan siluk.

    Btw tulisan ini keren sekali. Saya suka banget membacanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mas sudah menyempatkan membaca, ini juga salah satu tulisan favoritku loh ehehe.
      Soalnya ya benar benar bercerita tentang tanah halaman, tempat berpijak dr kecil sampai sekarang.
      Waaaa kalau ke pundong lagi mampir mas... miedesan lagi...
      Eh tapi aku blm kenal sama mas junaedi e

      Hapus
  9. banyak sekali tempat-tempat yang bisa di kunjungi disana..

    BalasHapus
  10. Banyak cerita untuk pundong, terima kasih sudah menghadirkan itu semua..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mas sudah berkunjung ke blog ini,
      Semoga postingan di atas bisa sedikit mengobati rindunya tentang pundong

      Hapus
  11. :") disini la tempat sang pujaan hati saya tinggal :") , ijin save dan share foto2 nya yaaa :') #ega wulandari

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh silakan mbak ega :)
      Semoga suatu saat jadi orang pundong juga :))

      Hapus
  12. Pundong,ijo ijo sawahnya,silir,pasar tradisional,sepi asri khas pedesaan.Mantep gayeng

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mas, silakan kapan-kapan berkunjung ke Pundong. Namun, Desember 2017 lalu, dua jembatan gantung yang ditulis di sini telah dibawa hanyut oleh banjir Kali Opak. Semoga nanti bisa dibangun jembatan gantung baru lagi :) aamiin

      Hapus
  13. Jadi pengen naik kevukit deket jembatan pundong itu,, dulu pernah ke jembatan gantung pundong dan ngeliat ada bukit kecil, tp gk tau jlan kesananya 😥

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cuma jembatan soka ke selatan mentog, lalu ambil kiri sampai menemukan tampungan air warna biru di atas bukit... ada akses jalannya kok mas :)
      Oh ya, jembatan gantungnya sekarang tinggal kenangan, hanyut terbawa banjir Desember 2017

      Hapus